Selasa, 10 April 2012

Tugas Evaluasi Hasil & Proses Belajar Mengajar

Nama: Dimas Tegar Dewanto
NPM: 10601040036
Evaluasi Pembelajaran
Evaluasi pembelajaran sangat penting di sekolah. Selain sebagai penilaian kepada guru terhadap keberhasilan model pembelajaran yang digunakan dalam kelas, juga mengetahui bagaimana perkembangan peserta didik setelah mengikuti proses pembelajaran. Evaluasi juga berfungsi sebagai feedback untuk peserta didik, feedback untuk guru, informasi untuk orang tua, informasi untuk seleksi, informasi untuk akuntabilitas, dan juga sebagai insentif, yaitu sebagai hadiah atas segala usaha yang dilakukan peserta didik. Guru juga sering menggunakan penilaian/asesmen dalam proses pembelajarannya. Diantara banyaknya asesmen, ada 2 asesmen yang sering digunakan. Yaitu Asesmen Autentik dan Asesmen Portofolio. Model pembelajaran dan evaluasi saling terkait satu sama lain. Model pembelajaran yang dilaksanakan akan semakin baik, bila dalam pengimplementasiannya selalu memperhatikan hasil evaluasi yang telah dilakukan. Model pembelajaran yang baik adalah yang dapat mengakomodir dan mengaktifkan peserta didik (yang heterogen), baik dari segi fisik maupun intelektualitasnya. Begitu juga dengan cara penilaiannya, diharapkan menggunakan instrumen yang tidak hanya mengukur potensi kognitifnya saja.
Contoh Konkrit:
Seorang guru memberikan ujian kepada peserta didiknya untuk mengukur kemampuan peserta didik. Guru juga mengawasi jalannya ujian tersebut. Setelah itu guru memberikan penilaian yang sesuai dengan usaha peserta didik. Hasil ujian tersebut diberikan kembali kepada peserta didiknya agar mereka tahu sampai dimana kemampuan mereka.

Selasa, 27 Maret 2012

Tugas 1 (Suplemen UAS)

1.     Sebutkan proses perkembangan kurikulum pembelajaran matematika di dalam negeri!
Jawab:
a.     Matematika Tradisional (Ilmu Pasti)
b.     Pembelajaran Matematika Modern (Kurikulum 1975)
c.      Kurikulum Matematika 1984
d.     Kurikulum Tahun 1994
e.      Kurikulum Tahun 2004, yang dikenal dengan “Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK)
f.       Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)
                                    
2.     Apa yang menyebabkan munculnya kurikulum 1975?
Jawab:
Pengajaran matematika modern resminya dimulai setelah adanya kurikulum 1975. Model pembelajaran matematika modern ini muncul karena adanya kemajuan teknologi. Di Amerika Serikat perasaan adanya kekurangan orang-orang yang mampu menangani senjata, rudal dan roket sangat sedikit, mendorong munculnya pembaharuan pembelajaran matematika. Selain itu penemuan-penemuan teori belajar mengajar oleh J. Piaget, W Brownell, J.P Guilford, J.S Bruner, Z.P Dienes, D.Ausubel, R.M Gagne dan lain-lain semakin memperkuat arus perubahan model pembelajaran matematika.
Munculnya kurikulum 1975 dimana matematika saat itu mempunyai karakteristik sebagai berikut ;
1) Memuat topik-topik dan pendekatan baru. Topik-topik baru yang muncul adalah himpunan, statistik dan probabilitas, relasi, sistem numerasi kuno, penulisan lambang bilangan non desimal.
2) Pembelajaran lebih menekankan pembelajaran bermakna dan berpengertian dari pada hafalan dan ketrampilan berhitung.
3) Program matematika sekolah dasar dan sekolah menengah lebih kontinyu.
4) Pengenalan penekanan pembelajaran pada struktur.
5) Programnya dapat melayani kelompok anak-anak yang kemampuannya hetrogen.
6) Menggunakan bahasa yang lebih tepat.
7) Pusat pengajaran pada murid tidak pada guru.
8) Metode pembelajaran menggunakan meode menemukan, memecahkan masalah dan teknik diskusi.
9) Pengajaran matematika lebih hidup dan menarik.

3.     Jelaskan karakteristik Kurikulum 1984!
Jawab:
Pembelajaran matematika pada era 1980-an merupakan gerakan revolusi matematika kedua, walaupun tidak sedahsyat pada revolusi matematika pertama atau matematika modern. Revolusi ini diawali oleh kekhawatiran negara maju yang akan disusul oleh negara-negara terbelakang saat itu, seperti Jerman barat, Jepang, Korea, dan Taiwan. Pengajaran matematika ditandai oleh beberapa hal yaitu adanya kemajuan teknologi muthakir seperti kalkulator dan komputer.

Perkembangan matematika di luar negeri tersebut berpengaruh terhadap matematika dalam negeri. Di dalam negeri, tahun 1984 pemerintah melaunching kurikulum baru, yaitu kurikulum tahun 1984. Alasan dalam menerapkan kurikulum baru tersebut antara lain, adanya sarat materi, perbedaan kemajuan pendidikan antar daerah dari segi teknologi, adanya perbedaan kesenjangan antara program kurikulum di satu pihak dan pelaksana sekolah serta kebutuhan lapangan dipihak lain, belum sesuainya materi kurikulum dengan tarap kemampuan anak didik.

Kurikulum 1984 mengusung process skill approach. Meski mengutamakan pendekatan proses, tapi faktor tujuan tetap penting. Kurikulum ini juga sering disebut “Kurikulum 1975 yang disempurnakan”. Posisi siswa ditempatkan sebagai subjek belajar. Dari mengamati sesuatu, mengelompokkan, mendiskusikan, hingga melaporkan. Model ini disebut Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) atau Student Active Learning (SAL). Tokoh penting dibalik lahirnya Kurikulum 1984 adalah Profesor Dr. Conny R. Semiawan, Kepala Pusat Kurikulum Depdiknas periode 1980-1986 yang juga Rektor IKIP Jakarta — sekarang Universitas Negeri Jakarta — periode 1984-1992. Konsep CBSA yang elok secara teoritis dan bagus hasilnya di sekolah-sekolah yang diujicobakan, mengalami banyak deviasi dan reduksi saat diterapkan secara nasional.
4.     Jelaskan karakteristik Kurikulum 2004!
Jawab:
Setelah beberapa dekade dan secara khusus sepuluh tahun berjalan dengan kurikulum 1994, pola-pola lama bahwa guru menerangkan konsep, guru memberikan contoh, murid secara individual mengerjakan latihan, murid mengerjakan soal-soal pekerjaan rumah hanya kegiatan rutin saja disekolah, sementara bagaimana keragaman pikiran siswa dan kemampuan siswa dalam mengungkapkan gagasannya kurang menjadi perhatian. Para siswa umumnya belajar tanpa ada kesempatan untuk mengkomunikasikan gagasannya, mengembangkan kreatifitasnya. Jawaban soal seolah membatasi kreatifitas dari siswa karena jawaban benar seolah-lah hanya otoritas dari seorang guru. Pembelajaran seperti paparan di atas akhirnya hanya menghasilkan lulusan yang kurang terampil secara matematis dalam menyelesaikan persoalah-persoalan seharai-hari. Bahkan pembelajaran model di atas semakin memunculkan kesan kuat bahwa matematika pelajaran yang sulit dan tidak menarik.
Tahun 2004 pemerintah melaunching kurikulum baru dengan nama kurikulum berbasis kompetesi. Secara khusus model pembelajaran matematika dalam kurikulum tersebut mempunyai tujuan antara lain;
1) Melatih cara berfikir dan bernalar dalam menarik kesimpulan, misalnya melalui kegiatan penyelidikan, eksplorasi, eksperimen, menunjukkankesamaan, perbedaan, konsistensi dan inkonsistensi.
2) Mengembangkan aktifitas kreatif yang melibatkan imajinasi, intuisi, dan penemuan dengan mengembangkan divergen, orisinil, rasa ingin tahu, membuat prediksi dan dugaan, serta mencoba-coba.
3) Mengembangkan kemampuan memecahkan masalah.
Mengembangkan kewmapuan menyampaikan informasi atau mengkomunikasikan gagasan antara lain melalui pembicaraan lisan, catatan, grafik, diagram, dalam menjelaskan gagasan.
Depdiknas (2002) mengemukan karakteristik KBK secara lebih rinci sebagai berikut:
1. Menekankan kepada ketercapaian kompetensi siswa baik secara individual  maupaun  klasikal. Artinya isi KBK pada intinya adalah menekankan pada pencapaian sejumlah kompetensi yang harus dicapai oleh siswa. Kompetensi inilah yang selanjutnya dinamakan standar minimal atau kemampuan dasar.
2. Berorientasi pada hasil belajar dan keberagaman. Artinya, keberhasilan pencapaian kompetensi dasar diukur oleh indikator hasil belajar. Indikator inilah yang dijadikan acuan apakah kompetensi yang diharapkan sudah tercapai atau belum.
3. Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi. Dalam KBK proses menerima informasi dari guru harus ditinggalkan. Belajar adalah proses mencari dan menemukan. Jadi menuntut keaktifan siswa, oleh sebab itu proses pembelajaran harus bervariasi.
4. Sumber belajar bukan hanya guru, tetapi juga sumber belajar lainnya yang memenuhi unsur edukatif.
5. Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan suatu kompetensi. Artinya, keberhasilan pembelajaran KBK tidak hanya diukur dari sejauh mana siswa dapat menguasai isi atau materi pelajaran, akan tetapi bagaimana cara mereka menguasai pelajaran tersebut. Jadi hasil dan proses adalah dua sisi yang sama penting. 
5.  Jelaskan sistem yag diterapkan dalam pengembangan KTSP!
Jawab:
KTSP adalah kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan. KTSP terdiri dari tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan, struktur dan muatan kurikulum tingkat satuan pendidikan, kalender pendidikan, dan silabus.
Pengembangan KTSP harus memperhatikan pilar-pilar pendidikan yang berkembang di abad ini:
1) Belajar untuk beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
2) Belajar untuk memahami dan menghayati,
3) Belajar untuk mampu melaksanakan dan berbuat secara efektif,
4) Belajar untuk hidup bersama dan berguna untuk orang lain, dan
5) Belajar untuk membangun dan menemukan jati diri melalui proses belajar yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan (BSNP, 2006: 2)     
Dalam standar nasional pendidikan (SNP pasal 1, ayat 15) dijelaskan bahwa KTSP adalah kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan. Beberapa hal yang berhubungan dengan makna kurikulum operasional:
a. Dalam pengembangannya, KTSP tidak akan lepas dari ketetapan yang telah disusun pemerintah secara nasional. Artinya, walaupun daerah diberi kewenangan itu hanya sebatas pada kewenangan operasional saja. Sedangkan yang menjadi rujukannya itu sendiri ditentukan oleh pemerintah.
b. Para pengembang KTSP dituntut harus memperhatikan ciri khas kedaerahan.
c. Sebagai kurikulum operasional, para pengembang kurikulum di daerah memiliki keleluasaan dalam mengembangkan kurikulum menjadi unit-unit pelajaran, dalam menentukan media pembelajaran dalam menentukan evaluasi yang dilakukan termasuk dalam menentukan beberapa kali pertemuan dan kapan suatu topik materi harus di pelajari siswa agar kompetensi dasar yang telah ditentukan dapat tercapai.
Adapun karakteristik dari Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah:
a. Pemberian Otonomi Luas Kepada Sekolah dan Satuan Pendidikan
KTSP memberikan otonomi luas kepada sekolah dan satuan pendidikan, disertai seperangkat tanggung jawab untuk mengembangkan kurikulum sesuai dengan kondisi setempat, serta kewenagan dan kekuasaan yang luas untuk mengembangkan pembelajaran sesuai dengan kondisi dan kebutuhan peserta didik serta tuntutan masyarakat. Selain itu, sekolah dan satuan pendidikan juga diberikan kewenangan untuk menggali dan mengelola sumber dana sesuai dengan prioritas kebutuhan.
b. Partisipasi Masyarakat dan Orang Tua yang Tinggi
Orang tua peserta didik dan masyarakat tidak hanya mendukung sekolah melalui bantuan keuangan, tetapi melalui komite sekolah dan dewan pendidikan merumuskan serta mengembangkan program-program yang dapat meningkatkan kualitas pembelajaran.
c. Kepemimpinan yang Demokratis dan Profesional
Kepala sekolah dan guru-guru sebagai tenaga pelaksana kurikulum merupakan orang-orang yang memiliki kemampuan dan integritas profesional. Kepala sekolah adalah manajer pendidikan profesional yang direkrut komite sekolah untuk mengelola segala kegiatan sekolah berdasarkan kebijakan yang ditetapkan. Guru-guru yang direkrut oleh sekolah adalah pendidik profesional dalam bidangnya masing-masing, sehingga mereka bekerja berdasarkan pola kinerja profesional yang disepakati bersama untuk memberi kemudahan dan mendukung keberhasilan pembelajaran peserta didik.
d. Tim-Kerja yang Kompak dan Transparan
Dalam KTSP, keberhasilan pengembangan kurikulum dan pembelajara didukung oleh kinerja team yang kompak dan transparan.
e. Mendorong terwujudnya otonomi sekolah dalam penyelenggaraan pendidikan.
f. Mendorong guru, kepala sekolah, dan pihak manajemen sekolah untuk semakin meningkatkan kreativitasnya dalam penyelenggaraan program-program pendidikan.
g. KTSP sangat memungkinkan bagi setiap sekolah untuk menitikberatkan dan mengembangkan mata pelajaran tertentu yang aksep tabel bagi kebutuhan siswa.
h. KTSP akan mengurangi beban belajar siswa yang sangat padat dan memberatkan kurang lebih 20%.
i. KTSP memberikan peluang yang lebih luas kepada sekolah-sekolah plus untuk mengembangkan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan.
6.  Sebutkan 5 unsur yang menjadi tujuan matematika sekolah!
Jawab:
Berdasarkan PERMENDIKNAS No. 22 Tahun 2006, Mata pelajaran matematika bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan berikut:
1. Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antarkonsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat, dalam pemecahan masalah.
2.  Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika
3.  Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh
4.  Mengomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah
        5.  Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.

Senin, 09 Januari 2012

UAS ISBM

Landasan Teori


1.    Model pembelajaran

a.    Model pencapaian konsep
Model ini berangkat dari studi mengenai proses berpikir yang dilakukan oleh Bruner, Goodnow, dan Austin (1967). Yang sengaja dirancang membantu para siswa mempelajari konsep-konsep yang dapat dipakai mengorganisasikan informasi sehingga dapat memberikan kemudahan bagi mereka mempelajari konsep itu dengan cara yang lebih efektif. Model ini, merupakan model yang sangat sesuai untuk menyajikan informasi yang terorganisasi dalam berbagai bidang studi. Salah satu keunggulan dari model pencapaian konsep ini ialah meningkatkan kemampuan untuk belajar dengan cara yang lebih mudah dan efektif dimasa depan. Dari hasil kajian terhadap keberlakukan dari model ini, diperoleh petunjuk yang meyakinkan secara akademis dan praktis, bahwa model ini dapat digunakan untuk sasaran belajar dari berbagai usia.

b.    Model pertemuan kelas
Model ini didasarkan pada studi tentang perkembangan koqnitif, (Piaget:1952:Kohlberg:1976, Alvian:1967, Sigel:1960). Penggunaan model ini bertujuan untuk membantu para guru menyesuaikan proses belajar mengajar terhadap taraf kematangan para siswa untuk merancang cara-cara meningkatkan kecepatan perkembangan kognitif para siswa. Model ini dapat digunakan dalam berbagai studi (Spoulding:1970,Purple dan Ryan:1976).

c.    Model simulasi
Model simulasi dirancang dari gambaran mengenai kehidupan sehari-hari. Suasana yang mirip dengan lingkungan yang sebenarnya sengaja diciptakan sebagai situasi belajar. Cara lain dapat pula dilakukan dengan membangun alat tiruan sebagai simulator, misalnya ruangan matematika sebagai alat simulasi para siswa. Dalam model ini pila banyak dipakai dalam bidang pengajaran yang menitikberatkan pada latihan keterampilan, dan berlaku bagi peserta didik pada berbagai usia.

2.    Metode Pembelajaran

a.    Metode ceramah
Metode ceramah merupakan metode yang dianggap guru sebagai metode mengajar yang paling mudah dilaksanakan. Kalau bahan pelajaran sudah dikuasai  dan sudah ditentukan urutan penyampaiannya, guru tinggal menyajikannya didepan kelas. Murid-murid memperhatikan guru berbicara, mencoba menangkap apa isinya dan membuat catatan. Dalam pelajaran matematika guru mendominasi semua kegiatan belajar mengajar definisi dan rumus yang diberikannya. Penurunan rumus atau pembuktian dalil dilakukan sendiri oleh guru. Diberitahukan apa yang dikerjakan dan bagaimana menyimpulkannya. Contoh-contoh soal diberikan dan dikerjakan pula sendiri oleh guru. Langkah-langkah guru diikuti dengan teliti oleh murid. Mereka meniru cara kerja dan penyelesaian yang dilakukan oleh guru.

b.    Metode ekspositori
Metode ekspositori sama dengan halnya metode ceramah dalam hal terpusatnya kegiatan kepada guru sebagai pemberi bahan pelajaran. Tetapi pada metode ekspositori dominasi guru banyak berkurang, karena tidak terus menerus berbicara. Ia berbicara pada awal pelajaran , menerangkan materi dan contoh soal, dan pada waktu-waktu yang diperlukan saja. Murid tidak hanya mendengar dan membuat catatan. Tetapi juga membuat soal latihan dan bertanya kalau tidak mengerti. Guru dapat memeriksa pekerjaan murid secara individual, menjelaskan lagi kepada murid secara klasikal. Kalau dibandingkan dominasi guru dalam kegiatan belajar mengajar, metode ceramah lebih terpusat pada guru daripada metode ekspsitori. Pada metode ekspositori siswa belajar lebih aktif daripada metode ceramahs seperti mengerjakan soal latihan sendiri , bertanya, dan mengerjakan secara bersama atapun disuruh membuatnya dipapan tulis.

c.    Metode Pear-Teaching
Metode ini sangat cocok digunakan untuk kelas yang memiliki siswa dalam jumlah banyak. Aktivitas ini memberikan simulasi pada setiap kelompok untuk melatih setiap sub bab lebih baik. Aktivitas yang akan dideskripsikan disini merupakan ”cooperative learning activity” yang merupakan suatu strategi dimana siswa bekerjasama dalam kelompok-kelompok kecil dengan tujuan untuk memaksimalkan pembelajaran anggota kelompok yang ada didalamnya (Cooper, KcKinney dan Robinson 1991). Metode tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan proses belajar. Pada akhir suatu bagian, misalnya akhir suatu bab, siswa diberikan latihan yang berhubungan dengan materi yang telah dibahas sebelumnya. Latihan ini harus dikerjakan oleh mahasiswa diluar jadwal. Materi pada latihan tersebut merupakan pertanyaan yang terstruktur dari prosedur yang mudah sampai prosedur yang bersifat konseptual. Tujuan dari latihan ini adalah untuk memfasilitasi pembelajaran dan tidak berhubungan dengan nilai. Siswa bebas untuk mengerjakan atau tidak mengerjakan latihan tersebut. Siswa yang dapat menyelesaikan latihan tersebut dan merasa percaya diri untuk menerangkan kepada temannya dijadikan volunteers teacher. Guru kemudian mengadakan prepatory meeting dengan tujuan untuk menyusun tim pengajar (teaching teams) yang terdiri dari siswa yang bersedia untuk menjadi volunteers teachers kemudian mendiskusikan semua pertanyaan yang timbul dari latihan yang telah mereka kerjakan sebelumnya. Setelah semua pertanyaan didiskusikan, siswa dari teaching teams masing-masing membentuk suatu kelompok dari diluar teaching teams untuk dijadikan ”peer”. Siswa dari teaching teams bertindak sebagai instruktur kepada anggotanya untuk menerangkan latihan yang telah diberikan sebelumnya (peer-teaching). Partisipasi student-students ataupun teacher-student merupakan kegiatan yang bersifat optional dan tidak berhubungan dengan nilai mahasiswa. Penilaian disini berasal dari indiviual assignment ataupun dari hasil ujian. Esensi dari aktivitas ini adalah untuk mencari tempat dan waktu yang tepat baik untuk prepatory meeting ataupun peer teaching. Namun kuncinya adalah jika mahasiswa yang dijadikan volunteers teachers telah menyelesaikan latihan yang diberikan, maka prepatory meeting tersebut dilakukan dengan efektif tanpa membuang waktu. Keuntungan untuk siswa yang berperan sebagai siswa adalah remoteness yang menyebabkan siswa enggan untuk bertanya pada kelas reguler dapat diminimalisir. Bukan hanya karena adanya jumlah anggota kelompok yang sedikit, adanya kesamaan usia dan gaya diantara peers membuat para anggota kelompok nyaman untuk bertanya mengenai materi yang ada sehingga memudahkan pembelajaran. Sedangkan untuk siswa yang berperan sebagai teacher adanya metode ini akan semakin meningkatkan pemahaman mahasiswa tersebut akan materi yang ada. Selain itu dengan adanya kompetisi antara kelompok mendorong mahasiswa yang berperan sebagai pengajar akan menngkatkan kualitas kelompoknya.

3.    Pendekatan pembelajaran

a.    Pendekatan induktif
Proses berpikir yang dilakukan dengan cara untuk menarik kesimpulan. Kesimpulan bersifat umum dapat ditarik dari kasus-kasus bersifat individu. Tetapi dapat pula sebaliknya, dari hal yang besifat umum menjadi kasus yang bersifat individual. Pada hakikatnya matematika merupakan ilmu deduktif. Pengajaran dilakukan pun seharusnya menggunakan pendekatan deduktif sebelum digunakan program matematika modern. Para ahli matematika menyadari bahwa siswa-siswi masih sukar menggunakan akalnya dalam pembelajaran matematika yang menggunakan pendekatan deduktif. Sehingga dibuatlah pendekatan induktif yang menggunakan penalaran induktif, hingga cara emperis dapat diterapkan. Dengan cara ini konsep-konsep matematika yang abstrak dapat dimengerti murid-murid melalui benda-benda konkret.

b.    Pendekatan deduktif
Pendekatan deduktif dilakukan berdasarkan penalaran deduktif. Pendekatan deduktif dilakukan dengan cara penarikan kesimpulan dari hal yang umum ke khusus. Penarikkan kesimpulan pola berfikir secara deduktif biasanya menggunakan pola berfikir yang disebut silogisme. Terdapat 2 pernyataan benar dan kesimpulan (konklusi). Kedua pernyataan pendukung silogisme disebut premis (hipotesis) yang dibedakan menjadi premis mayor dan premis minor. Kesimpulan diperoleh sebagai hasil penalaran deduktif berdasarkan macam premis itu. 


c.    Pendekatan spiral
Pendekatan spiral digunakan untuk mengajarkan konsep. Dengan penekatan spiral suatu konsep tidak diajarkan dari awal sampai akhir dalam sebuah selang waktu, tetapi diberikan selang waktu yang terpisah-pisah. Diselang waktu pertama dikenalkan konsep sederhana, misalnya dengan cara intuitif melalui benda-benda konkret (notasi) atau gambar-gambar sesuai dengan kemampuan murid. Selang waktu terpisah-pisah, maka konsep dilanjutkan ke tingkat yang lebih abstrak. dengan begitu notasi pun berubah, hingga menggunakan notasi yang umum dipakai dalam matematika.




A.    Kelebihan dan Kekurangan serta Solusi tentang Penerapan Metode atau Pendekatan Pembelajaran.
A.1. Romudani
Kelebihan    :    Pemateri menggunakan model pembelajaran yaitu model pencapaian konsep dan metode pembelajaran yang digunakan adalah metode ekspositori, serta pendekatan pembelajaran yang dipakai adalah pendekatan deduktif. Penerapan model, metode dan pendekatan pembelajaran sudah bagus. Sesuai dengan jumlah siswa yang tidak terlalu banyak.
Kekurangan    :    Mungkin karena waktu yang digunakan hanya sedikit, sehingga penerapan model, metode dan pendekatan pembelajaran yang dipakai belum maksimal.
Solusi    :    Akan lebih bagus jika dalam penerapan model, metode dan pendekatan pembelajaran yang digunakan memakai waktu yang agak lama. Sehingga penerapan model, metode dan pendekatan pembelajaran akan maksimal.
A.2. Suparmi
Kelebihan    :    Pemateri menggunakan model pembelajaran yaitu model pencapaian konsep dan metode pembelajaran yang digunakan adalah metode ceramah, serta pendekatan pembelajaran yang dipakai adalah pendekatan induktif. Penerapan model, metode dan pendekatan pembelajaran cukup bagus, karena didukung oleh media yang ada.
Kekurangan    :    Karena menggunakan metode ceramah, pembelajaran lebih di fokuskan kepada guru. Sehingga ada siswa yang masih belum paham dengan materinya dan tidak bisa berinteraksi dengan gurunya.
Solusi    :    Jika menggunakan metode ceramah, akan lebih bagus kalau pematerinya lebih berinteraksi dengan siswa. Sehingga penerapan model, metode dan pendekatan pembelajaran akan lebih maksimal.
A.3. Rimah Malini
Kelebihan    :    Pemateri menggunakan model pembelajaran yaitu model pertemuan kelas dan metode pembelajaran yang digunakan adalah metode ekspositori serta pendekatan pembelajaran yang dipakai adalah pendekatan deduktif. Penerapan model, metode dan pendekatan pembelajaran sangat sesuai dengan materi yang disampaikan.
Kekurangan    :    Kekurangannya adalah penyampaian materinya agak terlalu terburu-buru. Hal itu di sebabkan sedikitnya waktu yang digunakan dalam penerapan model, metode dan pendekatan pembelajaran yang dipakai.
Solusi    :    Akan lebih maksimal lagi jika penerapan model, metode dan pendekatan pembelajarannya memakai waktu yang agak lama dan tidak terburu-buru. Sehingga materi yang disampaikan akan bisa dimengerti oleh siswa.


B.    Kelebihan dan Kekurangan serta Solusi tentang Alat Peraga dan Media Pembelajaran.
B.1. Romudani
Kelebihan    :    Lembar Kerja Siswa dan PPT yang digunakan sudah sesuai dengan materi yang disampaikan. Serta papan tulis yang dipakai untuk alat peraga.
Kekurangan    :    Alat peraga yang dipakai masih kurang.
Solusi    :    Akan lebih bagus lagi jika ada alat peraga untuk mendukung materi yang disampaikan.
B.2. Suparmi
Kelebihan    :    Media pembelajaran berupa power point sudah sangat bagus, karena materinya sudah lengkap.
Kekurangan    :    Alat peraga yang digunakan tidak ada, sehingga penyampaian materinya kurang maksimal
Solusi    :    Akan Lebih bagus jika ada alat peraga yang digunakan.
B.3. Rimah Malini
Kelebihan    :    Dengan adanya papan tulis sebagai alat peraga dan media pembelajaran, sangat mendukung penerapan model, metode dan pembelajaran yang dipakai.
Kekurangan    :    Alat peraga dan media pembelajaran yang dipakai masih kurang. Masih ada penggaris berbentuk segitiga yang tidak dipakai untuk menyampaikan materinya
Solusi    :     Akan lebih bagus lagi jika ada penggaris berbentuk segitiga. Sehingga siswa bisa melihat contoh konkrit dari materinya.

C.    Kelebihan dan Kekurangan serta Solusi tentang Penciptaan Interaksi dalam Proses Belajar Mengajar.
1.    Interaksi antara siswa dengan siswa
C.1.1 Romudani
Kelebihan    :    Dengan dibentuknya kelompok-kelompok kecil untuk menjawab pertanyaan yang disampaikan, interaksi antara siswa dengan siwa sudah cukup bagus.
Kekurangan    :    Kekurangannya hanya interaksi siswa dengan siswa kurang maksimal karena waktu yang dipakai hanya sedikit.
Solusi    :    Akan lebih maksimal interaksinya jika menggunakan waktu yang cukup.
C.1.2 Suparmi
Kelebihan    :    Saya rasa tidak ada interaksi yang tercipta antara siswa dengan siswa.
Kekurangan    :    Tidak ada interaksi yang tercipta.
Solusi    :    Akan lebih bagus jika ada interaksi yang tercipta.
C.1.3 Rimah Malini
Kelebihan    :    Dengan dibentuknya kelompok pada akhir-akhir membuat interaksi antara siswa dengan siswa tercipta cukup bagus.
Kekurangan    :    Karena pada saat terakhir baru ada interaksi, sehingga interaksi yang terjadi kurang maksimal.
Solusi    :    Akan lebih bagus jika waktu yang digunakan pada interaksi siswa dengan siswa lebih lama.

2.    Interaksi antara siswa dengan Media Pembelajaran
C.2.1 Romudani
Kelebihan    :    Sudah cukup bagus karena LKS yang digunakan sudah sesuai dan dapat dimengerti oleh siswa.
Kekurangan    :    Mungkin karena waktu yang digunakan sedikit, sehingga interaksi yang terjadi kurang maksimal.
Solusi    :    Akan lebih bagus jika waktu yang digunakan cukup lama.
C.2.2 Suparmi
Kelebihan    :    LKS yang digunakan sudah sesuai dengan materi yang disampaikan.
Kekurangan    :    Kurangnya pengertian siswa karena materi yang disampaikan masih ada yang belum dimengerti.
Solusi    :    Akan lebih bagus jika waktu yang digunakan agak lama, sehingga siswa bisa mempelajari lebih dalam LKSnya.
C.2.3 Rimah Malini
Kelebihan    :    LKSnya sesuai dengan apa yang disampaikan. Siswa juga mengerti apa yang akan dikerjakan.
Kekurangan    :    Kekurangannya yaitu tidak adanya alat peraga untuk mendukung media pembelajarannya.
Solusi    :    Jika ada alat peraga yang digunakan, akan lebih maksimal interaksi yang terjadi.

3.    Interaksi antara siswa dengan guru
C.3.1 Romudani
Kelebihan    :    Tercipta interaksi yang bagus antara siswa dengan pematerinya. Sehingga suasana di kelas tidak kaku.
Kekurangan    :    Mungkin karena waktu, sehingga interaksinya tidak berjalan maksimal.
Solusi    :    Sudah cukup bagus interaksinya, jadi hanya waktu yang kurang dalam memaksimalkan interaksinya.
C.3.2 Suparmi
Kelebihan    :    Tidak ada interaksi yang tercipta.
Kekurangan    :    Karena tidak ada interaksi yang tercipta, sehingga suasana di kelas menjadi kaku.
Solusi    :    Akan lebih bagus jika pematerinya lebih berinteraksi dengan siswanya.
C.3.3 Rimah Malini
Kelebihan    :    Tercipta interaksi yang cukup bagus di kelas.
Kekurangan    :    Mungkin karena pematerinya masih grogi, sehingga interaksi yang terjadi kurang maksimal
Solusi    :    Pemateri harus lebih percaya diri sehingga interaksi yang terjadi di kelas lebih maksimal.




Daftar Pustaka

http://isjd.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/12088798.pdf diakses tanggal 7 januari 2012

Erman Suherman, Udin S. Winataputra.1999.Strategi Belajar  Mengajar Matematika. Universitas Terbuka : Jakarta

Lisnawaty, S.1992. Metode Mengajar Matematika 1. PT. Rineka Cipta. : Jakarta

Lisnawaty, S.1992. Metode Mengajar Matematika 2. PT. Rineka Cipta. : Jakarta

Senin, 07 November 2011

10. Jelaskan Kompetensi standar yang harus dimiliki oleh seorang guru matematika, baik pedagogik, profesi, sosial, dan pribadi!

Dalam  Undang-undang No 14  tahun 2005  tentang Guru dan Dosen pasal 10 dan Peraturan Pemerintah No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan pasal 28, disebutkan bahwa guru yang berkualitas harus memiliki empat kompetensi, yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi professional, kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial. Keempat kompetensi yang dimaksud diterangkan berikut ini:
 
1. Kemampuan Pedagogik. Dalam Undang-undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen  dikemukakan kompetensi pedagogik adalah “kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik”. Depdiknas (2004:9) menyebut kompetensi ini dengan “kompetensi pengelolaan pembelajaran. Kompetensi ini  dapat dilihat dari kemampuan merencanakan program belajar mengajar, kemampuan melaksanakan interaksi atau mengelola proses belajar mengajar, dan kemampuan melakukan penilaian.

2. Kemampuan Profesional. Menurut Undang-undang No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, kompetensi profesional adalah “kemampuan penguasaan materi pelajaran secara luas dan mendalam”. Surya (2003:138) mengemukakan kompetensi profesional adalah berbagai kemampuan yang diperlukan agar dapat mewujudkan dirinya sebagai guru profesional. Kompetensi profesional meliputi kepakaran atau keahlian dalam bidangnya yaitu penguasaan bahan yang harus diajarkannya beserta metodenya, rasa tanggung jawab akan tugasnya dan rasa kebersamaan dengan sejawat guru lainnya. Johnson sebagaimana dikutip Anwar (2004:63) mengemukakan kemampuan profesional mencakup (1) penguasaan pelajaran yang terkini  atas penguasaan bahan yang harus diajarkan, dan konsep-konsep dasar keilmuan bahan yang diajarkan tersebut, (2) penguasaan dan penghayatan atas landasan dan wawasan kependidikan dan keguruan, (3) penguasaan proses-proses kependidikan, keguruan dan pembelajaran siswa. Arikunto (1993:239) mengemukakan kompetensi profesional mengharuskan guru memiliki pengetahuan yang luas dan dalam tentang subject matter (bidang studi) yang akan diajarkan serta penguasaan metodologi yaitu menguasai konsep teoretik, maupun memilih metode yang tepat dan mampu menggunakannya dalam proses belajar mengajar. Depdiknas (2004:9) mengemukakan kompetensi profesional meliputi: (1) pengembangan profesi, (2) pemahaman wawasan, dan (3) penguasaan bahan kajian akademik. Pengembangan profesi meliputi (1) mengikuti informasi perkembangan iptek yang mendukung profesi melalui berbagai kegiatan ilmiah, (2) mengalihbahasakan buku pelajaran/karya ilmiah, (3) mengembangkan berbagai model pembelajaran, (4) menulis makalah, (5) menulis/menyusun diktat pelajaran, (6) menulis buku pelajaran, (7) menulis modul, (8) menulis karya ilmiah, (9) melakukan penelitian ilmiah (action research), (10) menemukan teknologi tepat guna, (11) membuat alat peraga/media, (12) menciptakan karya seni, (13) mengikuti pelatihan terakreditasi, (14) mengikuti pendidikan kualifikasi, dan (15) mengikuti kegiatan pengembangan kurikulum. Pemahaman wawasan meliputi (1) memahami visi dan misi, (2) memahami hubungan pendidikan dengan pengajaran, (3) memahami konsep pendidikan dasar dan menengah, (4) memahami fungsi sekolah, (5) mengidentifikasi permasalahan umum pendidikan dalam hal proses dan hasil belajar, (6) membangun sistem yang menunjukkan keterkaitan pendidikan dan luar sekolah. Penguasaan bahan kajian akademik meliputi (1) memahami struktur pengetahuan, (2) menguasai substansi materi, (3) menguasai substansi kekuasaan sesuai dengan jenis pelayanan yang dibutuhkan siswa. Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa kompetensi profesional guru meliputi (1) kemampuan penguasaan materi pelajaran, (2) kemampuan penelitian dan penyusunan karya ilmiah, (3) kemampuan pengembangan profesi, dan (4) pemahaman terhadap wawasan dan landasan pendidikan

3. Kemampuan Sosial. Guru yang efektif adalah guru yang mampu membawa siswanya dengan berhasil mencapai tujuan pengajaran. Mengajar di depan kelas merupakan perwujudan interaksi dalam proses komunikasi. Menurut Undang-undang Guru dan Dosen kompetensi sosial adalah “kemampuan guru untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan efisien dengan peserta didik, sesama guru, orangtua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar”. Surya (2003:138) mengemukakan kompetensi sosial adalah kemampuan yang diperlukan oleh seseorang agar berhasil dalam berhubungan dengan orang lain. Dalam kompetensi sosial ini termasuk keterampilan dalam interaksi sosial dan melaksanakan tanggung jawab sosial. Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa kompetensi sosial guru meliputi (1) interaksi guru dengan siswa, (2) interaksi guru dengan kepala sekolah, (3) interaksi guru dengan rekan kerja, (4) interaksi guru dengan orang tua siswa, dan (5) interaksi guru dengan masyarakat. Arikunto (1993:239) mengemukakan kompetensi sosial mengharuskan guru memiliki kemampuan komunikasi sosial baik dengan peserta didik, sesama guru, kepala sekolah, pegawai tata usaha, bahkan dengan anggota masyarakat.

4. Kemampuan Pribadi. Guru sebagai tenaga pendidik yang tugas utamanya mengajar, memiliki karakteristik kepribadian yang sangat berpengaruh terhadap keberhasilan pengembangan sumber daya manusia.  Kepribadian yang mantap dari sosok seorang guru akan memberikan teladan yang baik terhadap anak didik maupun masyarakatnya, sehingga guru akan tampil sebagai sosok yang patut “digugu” (ditaati nasehat/ucapan/perintahnya) dan “ditiru” (di contoh sikap dan perilakunya). Kepribadian guru merupakan faktor terpenting bagi keberhasilan belajar anak didik. Dalam kaitan ini, Zakiah Darajat dalam Syah (2000: 225-226)  menegaskan bahwa kepribadian itulah yang akan menentukan apakah ia menjadi pendidik dan pembina yang baik bagi anak didiknya, ataukah akan menjadi perusak atau penghancur bagi masa depan anak didiknya terutama bagi anak didik yang masih kecil (tingkat dasar) dan mereka yang sedang mengalami kegoncangan jiwa (tingkat menengah). Karakteristik kepribadian yang berkaitan dengan keberhasilan guru dalam menggeluti profesinya adalah meliputi fleksibilitas kognitif dan keterbukaan psikologis. Fleksibilitas kognitif atau keluwesan ranah cipta merupakan kemampuan berpikir yang diikuti dengan tindakan secara simultan dan memadai dalam situasi tertentu. Guru yang fleksibel pada umumnya ditandai dengan adanya keterbukaan berpikir dan beradaptasi. Selain itu, ia memiliki resistensi atau daya tahan terhadap ketertutupan ranah cipta yang prematur dalam pengamatan dan pengenalan. Dalam Undang-undang Guru dan Dosen dikemukakan kompetensi kepribadian adalah “kemampuan kepribadian yang mantap, berakhlak mulia, arif, dan berwibawa serta menjadi teladan peserta didik”. Surya (2003:138) menyebut kompetensi kepribadian ini sebagai kompetensi personal, yaitu kemampuan pribadi seorang guru yang diperlukan agar dapat menjadi guru yang baik. Kompetensi personal ini mencakup kemampuan pribadi yang berkenaan dengan pemahaman diri, penerimaan diri, pengarahan diri, dan perwujudan diri. Arikunto (1993:239) mengemukakan kompetensi personal mengharuskan guru memiliki kepribadian yang mantap sehingga menjadi sumber inspirasi bagi subyek didik, dan patut diteladani oleh siswa. Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa kompetensi kepribadian guru meliputi (1) sikap, dan (2) keteladanan.

7. Sebutkan dan jelaskan teori belajar aliran psikologi tingkah laku!

Aliran Psikologi Tingkah Laku

1. Aliran Psikologi Tingkah Laku
Sebelum membahas psikologi tingkah laku alangkah lebih baik jika kita lebih dahulu membahas  tentang psikologi belajar mengajar,yang sifatnya masih umum. Psikologi belajar atau disebut pula dengan teori belajar adalah teori yang mempelajari perkembangan intelekual (mental) siswa. didalamnya terdiri dari dua hal, yaitu:
  1. uraian tentang apa yang terjadi dan diharapkan terjadi pada intelektual anak
  2. uraian tentang kegiatan intelektual anak mengenai hal-hal yang bisa dipikirkan pada usia tertentu
Psikologi mengajar atau teori mengajar berisi tentang petunjuk bagaimana semestinya mengajar siswa pada usia tertentu,bila ia sudah siap belajar. jadi pada teori mengajar terdapat prosedur dan tujuan mengajar.
Jadi dalam proses belajar siswa merupakan subjek dan bukan objek, selanjutnya peristiwa belajar dan mengajar ini sesuai dengan istilah dalam kurikulum akan disebut pembelajaran, yang berkonotasi pada proses kinerja yang sinergi antara setiap komponennya.
2. Aliran Psikologi Tingkah Laku Menurut Para Ahli
A. Teori Thorndike
Edward l. Thorndike (1874-1949) mengemukan beberapa hukum belajar yang dikenal dengan sebutan law of effect. Menurut  hukum ini belajar akan lebih berhasil bila respon murid terhadap suatu stimulus segera diikuti dengan rasa senang atau kepuasan
teori belajar stimulus respon yang dikemukakan oleh thorndike ini disebut juga koneksionisme,teori ini mengatakan bahwa pada hakikatnya belajar merupakan proses pembentukan hubungan antara stimulus dan respon. Terdapat beberapa dalil:
a. Hukum Kesiapan (Law Of Readiness)
Yaitu menerangkan bagaimana kesiapan seorang anak dalam melakukan suatu kegiatan. Seorang anak yang mempunyai kecenderungan untuk bertindak atau melakukan kegiatan tertentu dan kemudian dia benar melakukan kegiatan tersebut, maka tindakannya akan melahirkan kepuasan bagi dirinya. Tindakan-tindakan lain yang dia lakukan tidak menimbulkan kepuasan bagi dirinya.
b. Hukum Latihan (Law Of Exercise) dan Hukum Akibat (Law Of Effect).
Hukum latihan menyatakan bahwa jika hubungan stimulus respon sering terjadi, akibatnya hubungan akan semakian kuat. Sedangkan makin jarang hubungan stimulus respon dipergunakan maka makin lemahnya hubungan yang terjadi.
Dalam hukum akibat ini dapat disimpulkan bahwa kepuasan yang terlahir dari adanya ganjaran dari guru akan memberikan kepuasan bagi anak, dan anak cenderung untuk berusaha melakukan atau meningkatkan apa yang telah dicapainya itu. Guru yang memberi senyuman wajar terhadap jawaban anak, akan semakin menguatkan konsep yang tertanam pada diri anak. Kata-kata “ Bagus”, “Hebat” , ”Kau sangat teliti” dan semacamnya akan merupakan hadiah bagi anak yang kelak akan meningkatkan dirinya dalam menguasai pelajaran.
Disamping itu, Thorndike mengutamakan pula bahwa kualitas dan kuantitas hasil belajar siswa tergantung dari kualitas dan kuantitas Stimulus-Respon (SR) dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar. Makin banyak dan makin baik kualitas S-R itu (yang diberikan guru) makin banyak dan makin baik pula hasil belajar siswa.
Implikasi dari aliran pengaitan ini dalam kegiatan belajar mengajar sehari-hari adalah bahwa:
  1. Dalam menjelaskan suatu konsep tertentu, guru sebaiknya mengambil contoh yang sekiranya sudah sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Alat peraga dari alam sekitar akan lebih dihayati.
  2. Metode pemberian tugas, metode latihan (drill dan practicc) akan lebih cocok. Karna siswa akan lebih banyak mendapatkan stimulus sehingga respons yang diberikan pun akan lebih banyak.
  3. Dalam kurikulum, materi disusun dari materi yang mudah, sedang, dan sukar sesuai dengan tingkat kelas dan tingkat sekolah. Penguasaan materi yang lebih mudah sebagai akibat untuk dapat menguasai materi yang lebih sukar.
B. Teori Skinner
Dalam bagian ini akan diuraikan teori belajar menurut skinner. Burhus Frederic Skinner menyatakan bahwa ganjaran atau penguatan mempunyai peranan yang amat penting dalam proses belajar. Penguatan dapat dianggap sebagai stimulus positif, jika penguatan tersebut seiring dengan meningkatnya perilaku anak dalam melakukan pengulangan perilakunya itu. Untuk mengubah tingkah laku anak dari negatif menjadi positif, guru perlu mengetahui psikologi yang dapat digunakan untuk memperkirakan dan mengendalikan tingkah laku anak.
Skinner menambahkan bahwa jika respon siswa baik ( menunjang efektivitas pencapaian tujuan) harus segera diberikan penguatan positif agar respon tersebut lebih baik lagi, atau minimal perbuatan baik itu dipertahankan.
C. Teori Ausubel
Teori ini terkenal dengan belajar bermaknanya dan pentingnya pengulangan sebelum belajar dimulai. Ia membedakan belajar menemukan dengan belajar menerima, jadi tinggal menghafalnya. Tetapi pada belajar menemukan konsep ditemukan oleh siswa, jadi tidak menerima pelajaran begitu saja. Selain itu untuk dapat membedakan antara belajar menghafal dengan belajar bermakna.
Pada belajar menghafal, siswa menghafal materi yang sudah diterimanya, tetapi pada belajar bermakna materi yang diperoleh itu dikembangkan dengan keadaan lain sehingga belajar lebih dimengerti. Selanjutnya bahwa Ausubel mengemukan bahwa metode ekspositori adalah metode mengajar yang baik dan bermakna. Hal ini dikemukan berdasarkan hasil penelitiannya. Belajar menerima maupun menemukan sama-sama dapat berupa belajar menghafal atau bermakna.
Misalnya dalam mempelajari konsep Pitagoras tentang segitiga siku-siku, mungkin bentuk akhir c2= b2+a2 sudah disajikan, tetapi jika siswa memahami rumus itu selalu dikaitkan dengan sisi-sisi sebuah segitiga siku-siku akan lebih bermakna.
D. Teori Gagne
Menurut Gagne dalam belajar matematika ada dua objek yang dapat diperoleh langsung oleh siswa, yaitu objek langsung dan objek tidak langsung. Objek tak langsung antara lain kemampuan menyelidiki dan memecahkan masalah, belajar mandiri, bersikap positif terhadap matematika dan tahu bagaimana semestinya belajar. Sedangkan objek lansung berupa fakta, keterampilan, konsep, dan aturan.
Fakta adalah objek matematika yang tinggal menerimanya, seperti lambang bilangan, sudut, dan notasi-notasi matematika lainnya. Kemampuan berupa memberikan jawaban dengan tepat dan cepat,misalnya melakukan pembagian bilangan yang cukup besar dengan bagi kurang,menjumlahkan pecahan,melukis sumbu sebuah ruas garis.
Konsep adalah ilmu abstrak yang memungkinkan kita dapat mengelompokkan objek ke dalam contoh dan noncontoh misalkan konsep, bujur sangkar, bilangan prima, himpunan, dan fektor.
Aturan adalah objek yang paling abstrak yang berupa sifat dan teorema. Menurut Gagne, belajar dapat dikelompokkan menjadi delapan titik belajar yaitu: belajar isyarat , stimulus respon, rangkaian gerak, rangkaian verbal, membedakan, pembentukan konsep, pembentukan aturan, dan pemecahan masalah.
Dalam pemecahan masalah biasanya ada 5 langkah yang harus dilakukan. Yaitu :
  1. Menyajikan masalah dalam bentuk yang lebih jelas.
  2. Menyatakan masalah dalam bentuk yang lebih operasional.
  3. Menyusun hipotesis hipotesis alternattif dan prosedur kerja yang diperkirakan baik.
  4. Mengetes hipotesis dan melakukan kerja untuk memperoleh hasilnya.
  5. Mengecek kembali hasil yang sudah diperoleh.
E. Teori Pavlov
Pavlof terkenal dengan teori belajar klasik. Ia melakukan percobaan terhadap seekor anjing, anjing itu dikurung dalam suatu kandang dalam waktu tertentu dan diberi makan. Selanjutnya, setiap akan diberi makan Pavlov membunyikan bel, ia memperhatikan bahwa setiap dibunyikan berl pada waktu tertentu anjing itu mangeluarkan air liurnya, walaupun tidak diberi makanan.
Pavlov mengemukakan konsep pembiasaan atau conditioning. Dalalm hubugannya dalam kegiatan belajar mengajar agar siswa belajar dengan baik maka harus dibiasakan. Misalnya, agar siswa mengerjakan soal peekerjaan rumah dengan baik, biasakanlah dengan memeriksanya, menjelaskannya, atau memberi nilai terhadap hasil pekerjaannya.
F. Teori Baruda
Baruda mengemukakan bahwa siswa belajar itu melalui meniru. Pengertian meniru di sini bukan berarti menyontek, tetapi meniru hal-hal yang dilakukan oleh orang lain, terutama guru. Jika tulisan guru baik, guru berbicara sopan santun, tingkah laku yang terpuji, menerangkan dengan jelas dan sistematis, maka siswa akan menirunya.  Jika contoh yang dilihat kurang baik maka ia pun akan menirunya.
F. Aliran Latihan Mental
Aliran ini berkembang sampai dengan abad 20, yang mengemukakan bahwa struktur otak manusia terdiri atas gumpalan-gumapalan otot, agar ini kuat, maka harus dilatih dengan beban, makin banyak latihan dan beban yang makin berat,maka otot atau otak itu makin kuat pula, oleh karna itu jika anak atau siswa ingin pandai, maka ia harus dilatih otaknya dengan cara banyak berlatih memahamidan mengerjakan soal-soal yang benar, makin sukar materi itu makin pandai pula anak tersebut.
Struktur kurikulum pada masa itu berisikan materi-materi pelajaran yang sulit, sehingga orang sedikit yang bersekolah karna tidak kuat untuk mengikutinya. Disamping faktor lain seperti keturunan, biaya, dan kesadaran akan pentingya sekolah.