Senin, 09 Januari 2012

UAS ISBM

Landasan Teori


1.    Model pembelajaran

a.    Model pencapaian konsep
Model ini berangkat dari studi mengenai proses berpikir yang dilakukan oleh Bruner, Goodnow, dan Austin (1967). Yang sengaja dirancang membantu para siswa mempelajari konsep-konsep yang dapat dipakai mengorganisasikan informasi sehingga dapat memberikan kemudahan bagi mereka mempelajari konsep itu dengan cara yang lebih efektif. Model ini, merupakan model yang sangat sesuai untuk menyajikan informasi yang terorganisasi dalam berbagai bidang studi. Salah satu keunggulan dari model pencapaian konsep ini ialah meningkatkan kemampuan untuk belajar dengan cara yang lebih mudah dan efektif dimasa depan. Dari hasil kajian terhadap keberlakukan dari model ini, diperoleh petunjuk yang meyakinkan secara akademis dan praktis, bahwa model ini dapat digunakan untuk sasaran belajar dari berbagai usia.

b.    Model pertemuan kelas
Model ini didasarkan pada studi tentang perkembangan koqnitif, (Piaget:1952:Kohlberg:1976, Alvian:1967, Sigel:1960). Penggunaan model ini bertujuan untuk membantu para guru menyesuaikan proses belajar mengajar terhadap taraf kematangan para siswa untuk merancang cara-cara meningkatkan kecepatan perkembangan kognitif para siswa. Model ini dapat digunakan dalam berbagai studi (Spoulding:1970,Purple dan Ryan:1976).

c.    Model simulasi
Model simulasi dirancang dari gambaran mengenai kehidupan sehari-hari. Suasana yang mirip dengan lingkungan yang sebenarnya sengaja diciptakan sebagai situasi belajar. Cara lain dapat pula dilakukan dengan membangun alat tiruan sebagai simulator, misalnya ruangan matematika sebagai alat simulasi para siswa. Dalam model ini pila banyak dipakai dalam bidang pengajaran yang menitikberatkan pada latihan keterampilan, dan berlaku bagi peserta didik pada berbagai usia.

2.    Metode Pembelajaran

a.    Metode ceramah
Metode ceramah merupakan metode yang dianggap guru sebagai metode mengajar yang paling mudah dilaksanakan. Kalau bahan pelajaran sudah dikuasai  dan sudah ditentukan urutan penyampaiannya, guru tinggal menyajikannya didepan kelas. Murid-murid memperhatikan guru berbicara, mencoba menangkap apa isinya dan membuat catatan. Dalam pelajaran matematika guru mendominasi semua kegiatan belajar mengajar definisi dan rumus yang diberikannya. Penurunan rumus atau pembuktian dalil dilakukan sendiri oleh guru. Diberitahukan apa yang dikerjakan dan bagaimana menyimpulkannya. Contoh-contoh soal diberikan dan dikerjakan pula sendiri oleh guru. Langkah-langkah guru diikuti dengan teliti oleh murid. Mereka meniru cara kerja dan penyelesaian yang dilakukan oleh guru.

b.    Metode ekspositori
Metode ekspositori sama dengan halnya metode ceramah dalam hal terpusatnya kegiatan kepada guru sebagai pemberi bahan pelajaran. Tetapi pada metode ekspositori dominasi guru banyak berkurang, karena tidak terus menerus berbicara. Ia berbicara pada awal pelajaran , menerangkan materi dan contoh soal, dan pada waktu-waktu yang diperlukan saja. Murid tidak hanya mendengar dan membuat catatan. Tetapi juga membuat soal latihan dan bertanya kalau tidak mengerti. Guru dapat memeriksa pekerjaan murid secara individual, menjelaskan lagi kepada murid secara klasikal. Kalau dibandingkan dominasi guru dalam kegiatan belajar mengajar, metode ceramah lebih terpusat pada guru daripada metode ekspsitori. Pada metode ekspositori siswa belajar lebih aktif daripada metode ceramahs seperti mengerjakan soal latihan sendiri , bertanya, dan mengerjakan secara bersama atapun disuruh membuatnya dipapan tulis.

c.    Metode Pear-Teaching
Metode ini sangat cocok digunakan untuk kelas yang memiliki siswa dalam jumlah banyak. Aktivitas ini memberikan simulasi pada setiap kelompok untuk melatih setiap sub bab lebih baik. Aktivitas yang akan dideskripsikan disini merupakan ”cooperative learning activity” yang merupakan suatu strategi dimana siswa bekerjasama dalam kelompok-kelompok kecil dengan tujuan untuk memaksimalkan pembelajaran anggota kelompok yang ada didalamnya (Cooper, KcKinney dan Robinson 1991). Metode tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan proses belajar. Pada akhir suatu bagian, misalnya akhir suatu bab, siswa diberikan latihan yang berhubungan dengan materi yang telah dibahas sebelumnya. Latihan ini harus dikerjakan oleh mahasiswa diluar jadwal. Materi pada latihan tersebut merupakan pertanyaan yang terstruktur dari prosedur yang mudah sampai prosedur yang bersifat konseptual. Tujuan dari latihan ini adalah untuk memfasilitasi pembelajaran dan tidak berhubungan dengan nilai. Siswa bebas untuk mengerjakan atau tidak mengerjakan latihan tersebut. Siswa yang dapat menyelesaikan latihan tersebut dan merasa percaya diri untuk menerangkan kepada temannya dijadikan volunteers teacher. Guru kemudian mengadakan prepatory meeting dengan tujuan untuk menyusun tim pengajar (teaching teams) yang terdiri dari siswa yang bersedia untuk menjadi volunteers teachers kemudian mendiskusikan semua pertanyaan yang timbul dari latihan yang telah mereka kerjakan sebelumnya. Setelah semua pertanyaan didiskusikan, siswa dari teaching teams masing-masing membentuk suatu kelompok dari diluar teaching teams untuk dijadikan ”peer”. Siswa dari teaching teams bertindak sebagai instruktur kepada anggotanya untuk menerangkan latihan yang telah diberikan sebelumnya (peer-teaching). Partisipasi student-students ataupun teacher-student merupakan kegiatan yang bersifat optional dan tidak berhubungan dengan nilai mahasiswa. Penilaian disini berasal dari indiviual assignment ataupun dari hasil ujian. Esensi dari aktivitas ini adalah untuk mencari tempat dan waktu yang tepat baik untuk prepatory meeting ataupun peer teaching. Namun kuncinya adalah jika mahasiswa yang dijadikan volunteers teachers telah menyelesaikan latihan yang diberikan, maka prepatory meeting tersebut dilakukan dengan efektif tanpa membuang waktu. Keuntungan untuk siswa yang berperan sebagai siswa adalah remoteness yang menyebabkan siswa enggan untuk bertanya pada kelas reguler dapat diminimalisir. Bukan hanya karena adanya jumlah anggota kelompok yang sedikit, adanya kesamaan usia dan gaya diantara peers membuat para anggota kelompok nyaman untuk bertanya mengenai materi yang ada sehingga memudahkan pembelajaran. Sedangkan untuk siswa yang berperan sebagai teacher adanya metode ini akan semakin meningkatkan pemahaman mahasiswa tersebut akan materi yang ada. Selain itu dengan adanya kompetisi antara kelompok mendorong mahasiswa yang berperan sebagai pengajar akan menngkatkan kualitas kelompoknya.

3.    Pendekatan pembelajaran

a.    Pendekatan induktif
Proses berpikir yang dilakukan dengan cara untuk menarik kesimpulan. Kesimpulan bersifat umum dapat ditarik dari kasus-kasus bersifat individu. Tetapi dapat pula sebaliknya, dari hal yang besifat umum menjadi kasus yang bersifat individual. Pada hakikatnya matematika merupakan ilmu deduktif. Pengajaran dilakukan pun seharusnya menggunakan pendekatan deduktif sebelum digunakan program matematika modern. Para ahli matematika menyadari bahwa siswa-siswi masih sukar menggunakan akalnya dalam pembelajaran matematika yang menggunakan pendekatan deduktif. Sehingga dibuatlah pendekatan induktif yang menggunakan penalaran induktif, hingga cara emperis dapat diterapkan. Dengan cara ini konsep-konsep matematika yang abstrak dapat dimengerti murid-murid melalui benda-benda konkret.

b.    Pendekatan deduktif
Pendekatan deduktif dilakukan berdasarkan penalaran deduktif. Pendekatan deduktif dilakukan dengan cara penarikan kesimpulan dari hal yang umum ke khusus. Penarikkan kesimpulan pola berfikir secara deduktif biasanya menggunakan pola berfikir yang disebut silogisme. Terdapat 2 pernyataan benar dan kesimpulan (konklusi). Kedua pernyataan pendukung silogisme disebut premis (hipotesis) yang dibedakan menjadi premis mayor dan premis minor. Kesimpulan diperoleh sebagai hasil penalaran deduktif berdasarkan macam premis itu. 


c.    Pendekatan spiral
Pendekatan spiral digunakan untuk mengajarkan konsep. Dengan penekatan spiral suatu konsep tidak diajarkan dari awal sampai akhir dalam sebuah selang waktu, tetapi diberikan selang waktu yang terpisah-pisah. Diselang waktu pertama dikenalkan konsep sederhana, misalnya dengan cara intuitif melalui benda-benda konkret (notasi) atau gambar-gambar sesuai dengan kemampuan murid. Selang waktu terpisah-pisah, maka konsep dilanjutkan ke tingkat yang lebih abstrak. dengan begitu notasi pun berubah, hingga menggunakan notasi yang umum dipakai dalam matematika.




A.    Kelebihan dan Kekurangan serta Solusi tentang Penerapan Metode atau Pendekatan Pembelajaran.
A.1. Romudani
Kelebihan    :    Pemateri menggunakan model pembelajaran yaitu model pencapaian konsep dan metode pembelajaran yang digunakan adalah metode ekspositori, serta pendekatan pembelajaran yang dipakai adalah pendekatan deduktif. Penerapan model, metode dan pendekatan pembelajaran sudah bagus. Sesuai dengan jumlah siswa yang tidak terlalu banyak.
Kekurangan    :    Mungkin karena waktu yang digunakan hanya sedikit, sehingga penerapan model, metode dan pendekatan pembelajaran yang dipakai belum maksimal.
Solusi    :    Akan lebih bagus jika dalam penerapan model, metode dan pendekatan pembelajaran yang digunakan memakai waktu yang agak lama. Sehingga penerapan model, metode dan pendekatan pembelajaran akan maksimal.
A.2. Suparmi
Kelebihan    :    Pemateri menggunakan model pembelajaran yaitu model pencapaian konsep dan metode pembelajaran yang digunakan adalah metode ceramah, serta pendekatan pembelajaran yang dipakai adalah pendekatan induktif. Penerapan model, metode dan pendekatan pembelajaran cukup bagus, karena didukung oleh media yang ada.
Kekurangan    :    Karena menggunakan metode ceramah, pembelajaran lebih di fokuskan kepada guru. Sehingga ada siswa yang masih belum paham dengan materinya dan tidak bisa berinteraksi dengan gurunya.
Solusi    :    Jika menggunakan metode ceramah, akan lebih bagus kalau pematerinya lebih berinteraksi dengan siswa. Sehingga penerapan model, metode dan pendekatan pembelajaran akan lebih maksimal.
A.3. Rimah Malini
Kelebihan    :    Pemateri menggunakan model pembelajaran yaitu model pertemuan kelas dan metode pembelajaran yang digunakan adalah metode ekspositori serta pendekatan pembelajaran yang dipakai adalah pendekatan deduktif. Penerapan model, metode dan pendekatan pembelajaran sangat sesuai dengan materi yang disampaikan.
Kekurangan    :    Kekurangannya adalah penyampaian materinya agak terlalu terburu-buru. Hal itu di sebabkan sedikitnya waktu yang digunakan dalam penerapan model, metode dan pendekatan pembelajaran yang dipakai.
Solusi    :    Akan lebih maksimal lagi jika penerapan model, metode dan pendekatan pembelajarannya memakai waktu yang agak lama dan tidak terburu-buru. Sehingga materi yang disampaikan akan bisa dimengerti oleh siswa.


B.    Kelebihan dan Kekurangan serta Solusi tentang Alat Peraga dan Media Pembelajaran.
B.1. Romudani
Kelebihan    :    Lembar Kerja Siswa dan PPT yang digunakan sudah sesuai dengan materi yang disampaikan. Serta papan tulis yang dipakai untuk alat peraga.
Kekurangan    :    Alat peraga yang dipakai masih kurang.
Solusi    :    Akan lebih bagus lagi jika ada alat peraga untuk mendukung materi yang disampaikan.
B.2. Suparmi
Kelebihan    :    Media pembelajaran berupa power point sudah sangat bagus, karena materinya sudah lengkap.
Kekurangan    :    Alat peraga yang digunakan tidak ada, sehingga penyampaian materinya kurang maksimal
Solusi    :    Akan Lebih bagus jika ada alat peraga yang digunakan.
B.3. Rimah Malini
Kelebihan    :    Dengan adanya papan tulis sebagai alat peraga dan media pembelajaran, sangat mendukung penerapan model, metode dan pembelajaran yang dipakai.
Kekurangan    :    Alat peraga dan media pembelajaran yang dipakai masih kurang. Masih ada penggaris berbentuk segitiga yang tidak dipakai untuk menyampaikan materinya
Solusi    :     Akan lebih bagus lagi jika ada penggaris berbentuk segitiga. Sehingga siswa bisa melihat contoh konkrit dari materinya.

C.    Kelebihan dan Kekurangan serta Solusi tentang Penciptaan Interaksi dalam Proses Belajar Mengajar.
1.    Interaksi antara siswa dengan siswa
C.1.1 Romudani
Kelebihan    :    Dengan dibentuknya kelompok-kelompok kecil untuk menjawab pertanyaan yang disampaikan, interaksi antara siswa dengan siwa sudah cukup bagus.
Kekurangan    :    Kekurangannya hanya interaksi siswa dengan siswa kurang maksimal karena waktu yang dipakai hanya sedikit.
Solusi    :    Akan lebih maksimal interaksinya jika menggunakan waktu yang cukup.
C.1.2 Suparmi
Kelebihan    :    Saya rasa tidak ada interaksi yang tercipta antara siswa dengan siswa.
Kekurangan    :    Tidak ada interaksi yang tercipta.
Solusi    :    Akan lebih bagus jika ada interaksi yang tercipta.
C.1.3 Rimah Malini
Kelebihan    :    Dengan dibentuknya kelompok pada akhir-akhir membuat interaksi antara siswa dengan siswa tercipta cukup bagus.
Kekurangan    :    Karena pada saat terakhir baru ada interaksi, sehingga interaksi yang terjadi kurang maksimal.
Solusi    :    Akan lebih bagus jika waktu yang digunakan pada interaksi siswa dengan siswa lebih lama.

2.    Interaksi antara siswa dengan Media Pembelajaran
C.2.1 Romudani
Kelebihan    :    Sudah cukup bagus karena LKS yang digunakan sudah sesuai dan dapat dimengerti oleh siswa.
Kekurangan    :    Mungkin karena waktu yang digunakan sedikit, sehingga interaksi yang terjadi kurang maksimal.
Solusi    :    Akan lebih bagus jika waktu yang digunakan cukup lama.
C.2.2 Suparmi
Kelebihan    :    LKS yang digunakan sudah sesuai dengan materi yang disampaikan.
Kekurangan    :    Kurangnya pengertian siswa karena materi yang disampaikan masih ada yang belum dimengerti.
Solusi    :    Akan lebih bagus jika waktu yang digunakan agak lama, sehingga siswa bisa mempelajari lebih dalam LKSnya.
C.2.3 Rimah Malini
Kelebihan    :    LKSnya sesuai dengan apa yang disampaikan. Siswa juga mengerti apa yang akan dikerjakan.
Kekurangan    :    Kekurangannya yaitu tidak adanya alat peraga untuk mendukung media pembelajarannya.
Solusi    :    Jika ada alat peraga yang digunakan, akan lebih maksimal interaksi yang terjadi.

3.    Interaksi antara siswa dengan guru
C.3.1 Romudani
Kelebihan    :    Tercipta interaksi yang bagus antara siswa dengan pematerinya. Sehingga suasana di kelas tidak kaku.
Kekurangan    :    Mungkin karena waktu, sehingga interaksinya tidak berjalan maksimal.
Solusi    :    Sudah cukup bagus interaksinya, jadi hanya waktu yang kurang dalam memaksimalkan interaksinya.
C.3.2 Suparmi
Kelebihan    :    Tidak ada interaksi yang tercipta.
Kekurangan    :    Karena tidak ada interaksi yang tercipta, sehingga suasana di kelas menjadi kaku.
Solusi    :    Akan lebih bagus jika pematerinya lebih berinteraksi dengan siswanya.
C.3.3 Rimah Malini
Kelebihan    :    Tercipta interaksi yang cukup bagus di kelas.
Kekurangan    :    Mungkin karena pematerinya masih grogi, sehingga interaksi yang terjadi kurang maksimal
Solusi    :    Pemateri harus lebih percaya diri sehingga interaksi yang terjadi di kelas lebih maksimal.




Daftar Pustaka

http://isjd.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/12088798.pdf diakses tanggal 7 januari 2012

Erman Suherman, Udin S. Winataputra.1999.Strategi Belajar  Mengajar Matematika. Universitas Terbuka : Jakarta

Lisnawaty, S.1992. Metode Mengajar Matematika 1. PT. Rineka Cipta. : Jakarta

Lisnawaty, S.1992. Metode Mengajar Matematika 2. PT. Rineka Cipta. : Jakarta