Salah satu masalah dalam pembelajaran matematika yang sering dikeluhkan
oleh para guru dan masyarakat adalah rendahnya hasil belajar siswa.
Secara teoritis, hasil belajar dipengaruhi oleh berbagai factor, baik
fakor dari dalam maupun factor dari luar.
Menurut
Suryabrata (1982:27) yang termasuk factor internal adalah factor
fisiologis dan factor psikologis(misalnya kecerdasan motivasi
berprestasi dan kemampuan kognitif), sedangkan yang termasuk factor
eksternal adalah factor lingkungan dan instrumental (misalnya guru,
kurikulum dan model pembelajaran). Benyamin Bloom (1982:11) mengemukakan
tiga factor utama yang mempengaruhi hasil belajar, yaitu kemampuan
kognitif, motivasi berprestasi dan kualitas pembelajaran. Kualitas
pembelajaran adalah kualitas kegiatan belajar mengajar yang dilakukan
terkait dengan model pembelajaran yang digunakan.
Studi Uhar
Suharsaputra (2004) menyimpulkan banyak guru yang menguasai materi suatu
subyek dengan baik tetapi tidak dapat melaksanakan kegiatan
pembelajaran dengan baik. Hal itu terjadi menurut Uhar, karena kegiatan
belajar mengajar tidak didasarkan pada suatu model pembelajaran tertentu
sehingga mengakibatkan hasil belajar siswa menjadi rendah. Diduga kuat,
rendahnya hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika juga
terkait erat dengan persoalan metode ataupun model pembelajaran.
Pembelajaran terkait erat dengan dengan konsep belajar. Para ahli
mendefinisikan belajar dalam pengertian yang bermacam-macam. Margaret E.
Gradler mendefinisikan belajar sebagai “ the process by which humans
acquire the range and variety of skills, knowledge, and attitude that
set the spesies apart from others”. Sementara D, Sudjana mendefinisikan
belajar , “suatu perubahan dalam disposisi atau kecakapan baru peserta
didik karena adanya usaha yang dilakukan dengan sengaja dari pihak
luar”.
Dari beberapa pengertian di atas meskipun menggunakan
formulasi yang berbeda-beda namun sesungguhnya mempunyai esensi yang
sama. Setidaknya terdapat empat hal yang menjadi unsure penyusun
definisi belajar, yakni; 1). Adanya perubahan dalam perilaku,
ketrampilan, pengetahuan, sikap, dan kemampuan bereaksi. 2), perubahan
yang terjadi bersifat relative tetap. 3). Perubahan tersebut bukan
karena kematangan atau kondisi sesaat. 4). Perubahan terjadi akibat
latihan yang diperkuat dan atau pengalaman.
Jika belajar merupakan
proses perubahan, maka pembelajaran adalah proses kompleks yang tercakup
didalamnya kegiatan belajar dan mengajar. Secara teknis, menurut Uhar
pembelajaran merupakan terjemahan dari instructon yang sebelumnya
dipadankan dengan istilah pengajaran. Tidak mengherankan jika dalam
praktiknya seringkali terjadi penyamaan atau saling mengganti penggunaan
konsep pengajaran dan pembelajaran. Pada hal keduanya berbeda secara
konseptual.
Menurut Nana Sudjana pengajaran diartikan sebagai proses
belajar mengajar yang merupakan interaksi siswa dengan lingkungan
belajar yang dirancang sedemikian rupa untuk mencapai tujuan
pembelajaran. Yakni kemampuan yang diharapkan dimiliki siswa setelah
menyelesaikan pengalaman belajarnya (Nana Sudjana: 1996). Bila
diperhatikan, pengertian pengajaran tersebut menunjukkan titik berat
pada peran guru sebagai pengajar dengan segala kewenangannya serta
menempatkan pembelajar/ peserta didik sebagai pihak yang bersifat pasif
dan hanya bersifat menerima. Pendekatan semacam ini disebut pendidikan
yang berpusat pada guru (teacher centered education) yang awalnya
berkembang di eropa ketika guru/ pengajar menjadi satu-satunya sumber
belajar. Belakangan dengan berkembangnya teknologi informasi dan
komunikasi, guru mempunyai peranan yang penting dalam meningkatkan
kualitas di bidang pendidikan terutama ditingkat dasar dan menengah.
Guru dituntut untuk bisa menciptakan situasi siswa mau belajar . dengan
motivasi, arahan dan bimbingan guru, siswa yang sebelumnya malas belajar
dapat berubah menjadi siswa yang aktif dalam belajar. Ada beberapa hal
yang harus dikuasai oelh seorang guru adalah sebagai berikut:
A. Proses Pembelajaran
Proses
belajar adalah interaksi atau hubungan timbal balik antara siswa dengan
guru dan antara sesama siswa dalam proses pembelajaran. Pengertian
interaksi mengandung unsure saling member dan menerima. Dalam interaksi
belajar mengajar ditandai sejumlah unsur;
1. Tujuan yang hendak dicapai
2. Siswa, guru dan sumber belajar lainnya
3. Bahan atau materi pelajaran
4. Metode yang digunakan untuk menciptakan situasi belajar mengajar.
Hakekat
belajar adalah suatu proses perubahan sikap, tingkah laku, dan nilai
setelah terjadinya interaksi dengan sumber belajar. Sumber belajar ini
selain selain guru dapat berupa buku, lingkungan, teknologi informasi
dan komunikasi atau sesama pembelajar (sesama siswa). Sedangkan istilah
mengajar dalam pengertian di atas adalah kegiatan dalam menciptakan
situasi yang mampu merangsang siswa untuk belajar. Dengan demikian
belajar tidak harus merupakan proses transformasi pengetahuan dari guru
kepada siswa. Proses itu merupakan proses pembelajaran. Tugas guru
adalah menciptakan situasi siswa belajar. Berbagai pandangan tentang
bagaimana belajar harus terjadi telah dilontarkan para ahli.
Menyangkut
belajar aktif Piaget tidak menunjuk hanya pada aksi luar yang
ditunjukkan siswa. Ia mencontohkan yang digunakan oleh Socrates yaitu
dengan metode socratik (utamanya Tanya jawab) untuk mengkondisikan siswa
dalam situasi aktif mengkonstruksi sendiri pengetahuannya. Tugas guru
adalah mengungkap apa yang telah dimiliki siswa dan dengan penalarannya
dapat bertanya secara tepat pada saat yang tepat pula sehingga siswa
mampu membangun pengetahuannya melalui penalaran berdasar pengetahuan
awal yang dimiliki siswa tersebut. Bahkan jawaban benar bukan merupakan
tujuan utama. Yang utama ialah bagaimana siswa dapat memperkuat
penalaran dan meyakini kebenaran proses berpikirnya yang tentunya akan
membawa kejawaban yang benar. Hal ini selaras dengan : “penilaian yang
berprinsip menyeluruh”, yaitu penilaian yang mencakup proses dan hasil
belajar, yang secara bertahap menggambarkan perubahan tingkah laku.
Menurut As’ari (2000) perilaku pembelajaran matematika yang diharapkan seharusnya adalah sebagai berikut:
1.
Pemberian informasi, perintah dan pertanyaan oleh guru mestinya hanya
sekitar 10 sampai dengan 30 % selebihnya berasal dari siswa.
2. Siswa mencari informasi, mencari dan memilih serta menggunakan sumber informasi.
3. Siswa mengambil insiatif lebih banyak
4. Siswa mengajukan pertanyaan
5. Siswa berpartisipasi dalam proses perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran
6. Ada penilaian diri dan ada penilaian sejawat.
Dengan
demikian pembelajaran matematika yang bermutu akan terjadi jika proses
belajar yang dialami siswa dan proses mengajar yang dialami oleh guru
adalah efektif.
Dalam penilaian, efektifitas proses belajar mengajar
haruslah ditinjau keefektifan komponen yang berpengaruh dalam
pembelajaran. Misalnya siswa termotivasi untuk belajar, materinya
menarik, tujuannya jelas, dan hasilnya dapat dirasakan mannfaatnya.
Untuk memperoleh hasil belajar matematika yang optimal perlu didukung
oleh kerangka umum kegiatan belajar yang mendukung berlangsungnya proses
belajar, yang dikenal sebagai struktur pengajaran matematika. Struktur
pengajaran ini memuat 1). Pendahuluan, 2). Pengembangan, 3). Penerapan
dan, 4). Penutup. Kesiapan siswa dalam belajar disiapkan guru selama
tahap pendahuluan, baik dengan memberikan motivasi, maupun revisi atas
kemungkinan bahan yang telah mereka pelajari namun ada miskonsepsi
sebagai apersepsi bagi konsep atau prinsip baru yang akan
dipelajaridalam tahap kedua. Tahap pengembangan merupakan tahap utama
dalam hal siswa belajar materi baru. Sesuai prinsip belajar aktif, maka
tahap ini perlu dikembangkan melalui optimalisasi proses pembelajaran,
misalnya dengan teknik bertanya, penggunaan lembar kerja, diskusi dan
lain sebagainya. Tahap ketiga, penerapan hal-hal yang dipelajari pada
tahap kedua, tahap pelatihan serta penggunaan dan pengembangan penalaran
lebih lanjut. Tahap terakhir dapat berisi pemantapan: merangkum
berbagai hal yang telah dipelajari pada tatap muka yang baru
berlangsung dan penugasan. Pada kegiatan merangkum pun untuk lebih
membelajarkan siswa, guru dapat mengembangkan teknik bertanya.
B. Penyajian materi pelajaran
1. Pembelajaran secara klasikal
Pembelajaran
klasikal cenderung digunakan oleh guru apabila dalam proses belajarnya
lebih banyak bentuk penyajian materi dari guru. Penyajian lebih
menekankan untuk menjelaskan sesuatu materi yang belum diketahui atau
dipahami oleh siswa. Alternative metodenya cenderung dengan metode
ceramah dan Tanya jawab bervariasi atau metode lain yang memungkinkan
sesuai dengan karakteristik materi pelajaran.
Metode Tanya jawab dan
metode ceramah dalam pembelajaran klasikal sulit dipisahkan. Melalui
metode Tanya jawab memungkinkan adanya aktifitas proses mental siswa
untuk melihat adanya keterhubungan yang terdapat dalam materi pelajaran.
Pembelajaran
klasikal akan memberikan kemudahan bagi guru dalam mengorganisasi
materi pelajarannya akan seragam diserap oleh siswa. Baik urutan maupun
ruang lingkupnya.
Pembelajaran klasikal dapat digunakan apabila
materi pelajaran lebih bersifat informative atau fakta. Terutama
ditujukan untuk memberikan informasi atau sebagai pengantar dalam proses
belajar mengajar. Sehingga dalam proses belajarnya, siswa lebih banyak
mendengarkan atau bertanya tentang materi pelajaran tersebut. Secara
proses pembelajaran klasikal dapat membentuk kemampuan siswa dalam
menyimak (mendengarkan) dan membentuk kemampuan dalam bertanya.
Motivasi
dan membangkitkan perhatian siswa sangat penting dalam pembelajaran
klasikal. Karena pembelajaran klasikal ini akan berhasil apabila ada
keterkaitan antara stimulus dan respon dalam proses belajar mengajar.
Tanya jawab memunkinkan adanya interaksi dan komunikasi edukatif. Yang
harus diperhatikan dalam melaksanakan proses belajar mengajar dengan
Tanya jawab diantaranya siswa terlebih dahulu harus sudah mengetahui
informasi dasar melalui membaca atau mendengarkan tentang materi yang
akan dibahas. Dalam proses Tanya jawab guru harus dapat mengarahkan
jawaban yang kurang tepat menjadi jawaban yang benar. Cara dan sikap
yang baik dari guru akan memabangkitkan motivasi dan percaya diri siswa
dalam bertanya maupun menjawab.
2. Pembelajaran secara kelompok
Pembelajaran
secara kelompok merupakan pembelajaran yang dalam proses belajarnya
siswa dikelompokkan pada beberapa kelompok sesuai dengan kebutuhan dan
tujuan belajar. Belajar kelompok terutama ditujukan untuk mengembangkan
konsep pokok/ sub pokok bahasan yang sekaligus mengembangkan aktifitas
social siswa, sikap dan nilai.
Pembelajaran kelompok cenderung banyak
digunakan dalam pembelajaran dengan pendekatan cara belajar siswa aktif
(CBSA). Misalnya dengan kegiatan diskusi, penelitian sederhana
(observasi), pemecahan masalah serta metode lain yang memungkinkkan
sesuai dengan tujuan dan karakteristik materi dalam belajar secara
berkelompok.
Kesempatan siswa untuk membina rasa tanggung jawab,
rasa toleransi, peluangnya lebih besar akan dapat dikembangkan melalui
kegiatan belajar kelompok. Dengan belajar kelompok lebih jauh siswa akan
memahami aspek materi pelajaran yang bersifat problematic berdasarkan
pokok bahasan maupun berdasarkan aspek social nyata. Secara langsung
siswa akan belajar memberikan alternative pemecahannya melalui
kesepakatan kelompok.
Dalam pembelajaran kelompok perlu diperhatikan
tentang alokasi waktu dengan ketercapaian tujuan pembelajaran.
Seringkali pembelajaran kelompok menggunakan waktu yang melebihi dari
waktu yang dialokasikan. Untuk iu kegiatan bimbingan dari guru sangat
diperlukan
3. Pembelajaran secara perorangan
Pembelajaran
perorangan dapat membantu proses belajar mengajar yang mengarah pada
optimalisasi kemampuan siswa secara individu. Untuk melaksanakan
kegiatan belajar tersebut, diantaranya guru perlu memiliki kemampuan
yang berkenaan dengan:
- Mengkaji hasil prestasi belajar siswa
- Merencanakan, melaksanakan, serta menilai program perbaikan dan pengayaan hasil belajar siswa
- Melaksanakan kegiatan belajar dalam latihan secara perorangan.
Kemampuan tersebut dalam pelaksanaannya perlu dilandasi dengan perhatian, bimbingan, dan motivasi dari guru.
Kegiatan
belajar perseorangan ditujukan untuk menampung kegiatan pengayaan dan
perbaikan. Program pengayaan perlu diberikan kepada siswa yang memiliki
prestasi atau kemampuan yang melebihi dari teman sekelasnya. Program
pengayaan dapat dilaksanakan oleh setiap sekolah yang programnya
disesuaikan dengan kondisi siswa dan kondisi sekolah yang bersangkutan.
Sedangkan kegiatan perbaikan (remedial) dilaksanakan untuk membantu
siswa yang kurang berhasil atau yang prestasinya dibawah rata-rata teman
sekelasnya. Juga program perbaikan disediakan untuk siswa yang
ketinggalan pelajarannya karena tidak masuk (alpa) pada saat proses
belajar menagajar tersebut berlangsung. Jadi pembelajaran perseorangan
pada dasarnya dilandasi oleh prinsip-prinsip belajar tuntas.
Contoh
pembelajaran perseorangan diantaranya adalah dengan menggunakan paket
pengajaran modul, baik dalam bentuk cetakan maupun CD interaktif. Dengan
modul ini siswa belajar secara perseorangan, sehingga memungkinkan
sekali siswa dapat maju sesuai dengan kecepatan masing-masing, tidak
harus menunggu atau mengejar-ngejar siswa lain seperti halnya pada
pembelajaran klasikal.
C. Prosedur Kegiatan Pembelajaran
Tahapan-tahapan kegiatan pembelajaran
Pertama
1. Menciptakan kondisi awal pembelajaran
2.
Melaksanakan apersepsi atau penilaian kemampuan awal siswa, misalnya
setiap siswa diminta mengerjakan soal yang dibuat oleh guru tentang
materi sebelumnyadalam waktu 5- 10 menit. Selanjutnya dengan bimbingan
guru, hasil pekerjaan siswa ditukar dengan temannya untuk dikoreksi dan
di nilai. Kemudian baik secara acak atau secara keseluruhan berdasarkan
urut daftar nama siswa, guru meminta siswa untuk menyebutkan hasil
penyekorannya. Jika dari skor-skor yang disebutkan siswa tidak memenuhi
ketuntasan belajar maka perlu diadakan perbaikan secara klasikal.
Kedua
1. Guru menyampaikan tujuan/ topic pembelajaran pada siswa
2.
Guru menyajikan bahan pelajaran dengan ceramah dan Tanya jawab
bervariasi tentang konsep pokok/sub pokok materi yang akan dipelajari
Ketiga
1. Guru mengelompokkan siswa dan memberikan penjelasan pada siswa tentang tahapan belajar/ diskusi.
2.
Siswa merumuskan, mengidentifikasi, menganalisis masalah serta
melakukan diskusi dalam kelompoknya untuk mendapatkan pemecahan masalah.
3.
Hasil diskusi pada kelompok kecil dipresentasikan pada seluruh kelompok
dan didiskusikannya dalam kelasnya dengan bimbingan langsung dari guru.
4. Menyimpulkan hasil diskusi berdasarkan rumusan masalah.
Keempat :
Pemantapan dan pemberian tugas secara perorangan baik melalui modul atau yang lainnya.
D. Daftar Pustaka
As’ari
A.R., 2000, Peningkatan mutu pendidikan Matematika. Makalah disajikan
pada seminar nasional Peningkatan kualitas pendidikan Matematika pada
Pendidikan Dasar, Malang: UM Malang.
Bloom, Benjamin S. 1982. Human Characterictics and School Learning. New York: McGraw-Hill Book Company.
Suryabrata,
Sumadi 1982. Psikologi pendidikan: Materi Pendidikan program bimbingan
konseling diperguruan tinggi. Yogyakarta: Depdikbud.
Suharsaputra,
Uhar. 2004. Pengembangan dan penggunaan Model Pembelajaran Arias dalam
meningkatkan Kualitas Pembelajaran. Makalah.
Krismanto, Al, 2000, Penilaian Bahan Penataran. PPPG Matematika Yogyakarta.
Winataputra, H. Udin S., 1997, Strtegi Belajar Mengajar, Jakarta: Universitas Terbuka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar